Pemazmur membuka nasihatnya dengan sebuah pertanyaan, “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?” Ini tidak saja berkaitan dengan keadaan yang baik, tetapi memiliki pengertian bahwa Tuhan berkenan kepada orang itu. Tentu setiap orang akan menginginkan hal tersebut, tetapi rupanya ada hal yang harus diperhatikan jika kita ingin kehidupan yang seperti itu.
Pertama, pemazmur menasihatkan, “Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” Perkataan yang keluar dari mulut kita itu dapat menentukan hidup kita itu jadi baik atau tidak. Amsal 21:23 menyatakan, “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” Karena itu Daud menasihatkan supaya kita jangan berkata yang jahat dan jangan menipu. Perkataan yang jahat itu dapat berkaitan dengan kata-kata umpatan, makian, fitnah, dan membicarakan kejelekan orang lain, sedangkan menipu memiliki pengertian melakukan kebohongan untuk merugikan sesamanya. Ketika Paulus menjelaskan tentang manusia baru yang sudah ditebus oleh Kristus, Ia menegaskan, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, … Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:25, 29) Orang yang diperkenan Tuhan adalah mereka yang menjaga perkataannya.
Kedua, pemazmur menambahkan, “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!” Ketika Daud menuliskan mazmur ini, ia sedang berada di negeri musuh dan tengah dikejar-kejar oleh Saul yang membencinya. Sekalipun Daud berada dalam situasi terjepit, ia berupaya untuk hidup dengan benar dan mengupayakan perdamaian, dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ketika ayat-ayat ini juga dikutip oleh Petrus dalam 1 Petrus 3:10-12, konteksnya adalah jemaat sedang hidup dalam tekanan penderitaan karena mereka hidup sebagai orang Kristen. Di tengah-tengah keadaan yang tidak ideal, kita dipanggil untuk melakukan kebaikan dan mengupayakan kedamaian. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9) Tuhan memanggil kita untuk tetap berbuat baik dan mengupayakan kedamaian di tengah-tengah keadaan yang tidak mudah. Kita bisa berada di tengah keluarga yang tidak sempurna, tetapi kuasa salib Kristus itu begitu besar yang akan memampukan kita untuk tetap melakukan yang baik dan membawa kedamaian. Kita bisa bekerja sama dengan orang-orang yang tidak mudah, tetapi karya Roh Kudus dalam hidup kita itu yang akan menolong kita untuk tetap melakukan yang baik dan membawa kedamaian. Tuhan berkenan kepada umat yang menghadirkan damai sejahtera dengan menjaga perkataan dan melakukan yang baik.

