Manusia pada dasarnya bukan orang yang suka mendahulukan orang lain, melainkan memperhatikan diri sendiri. Kecenderungan ini pun ada pada kedua belas rasul dalam narasi Yohanes 13:1-17. Ketika tidak ada budak/ pelayan yang melayani pembasuhan kaki, biasanya orang yang lebih dulu datang yang akan melayani ritual pembasuhan bagi semua tamu berikutnya. Namun para murid justru seru bertengkar tentang siapa yang terbesar karena yang terbesarlah yang harus dibasuh kakinya!
Ukuran kebesaran dunia hari ini adalah tentang seberapa besar keberhasilan dan pengakuan yang kita peroleh. Keberhasilan melulu diukur dari kuantitas materi dan popularitas. Semakin rendah starting point-nya, semakin dikagumi keberhasilannya. Asumsi kerendahan hati pun adalah tentang seorang yang berada di atas rela turun ke bawah. Ini berarti kerendahan hati adalah keistimewaan dari seorang yang hebat.
Berbeda dengan dunia, Yesus menunjukkan bahwa kerendahan hati yang sejati bukan melulu harus menjadi orang yang besar. Yesus punya segala sesuatu tetapi memilih kain lenan dan basi. Bahkan seorang budak Yahudi pun tidak akan membasuh majikannya, hanya budak kafir yang melakukan hal ini. Ini adalah pekerjaan yang hina. Yesus sedang mengajarkan tentang perendahan diri dan kerendahan hati yang sejati. Sedari awal Yesus datang untuk melayani, bukan untuk menjadi besar. Ia sudah besar, Ia menjadi rendah melalui inkarnasi sebagai wujud pelayanan yang sejati.
Prinsip mengenai jalan kerendahan hati.
Pertama, kerendahan hati kita berbeda dengan Yesus. Yesus adalah Tuhan yang lebih tinggi dari kita manusia, tetapi kita terhadap sesama kita adalah sama dan setara. Nilai diri kita semua adalah sama secara intrinsik. Yang berbeda adalah peran dan akibat dari perannya, tapi di dalam kita adalah sama. Maka memandang sesama lebih rendah lalu merasa diri kita merendah sesungguhnya bukan kerendahan hati melainkan kesombongan yang tersembunyi.
Kedua, kerendahan hati yang Yesus teladankan adalah agar kita melayani dengan kesadaran bahwa memang itulah panggilan kita! Justru karena kita mengasihi Allah maka kita akan melayani. Ini bukan sebagai sebuah nilai plus melainkan panggilan yang melekat.
Tanda kerendahan hati.
- Semakin tidak ada yang kita pertahankan bagi diri sendiri, maka kita akan semakin bebas mengabdikan hidup, taat apa saja yang Tuhan mau kerjakan atas kita dan melalui kita. Nothing to prove, nothing to lose, nothing to hide. Identitas dan panggilan membuat kita dapat menghadapi situasi hidup apa pun dengan tepat. Ini membuat kita dapat menghadapi pujian maupun kritik dengan membawanya ke hadapan Tuhan.
- Kedewasaan rohani. Jika kedewasaan jasmani ditandai dengan membesarnya ukuran fisik tubuh, maka kedewasaan rohani ditandai dengan mengecilnya si aku, disertai dengan membesarnya kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

